“Delay Gratification” dan Literasi Keuangan Usia Dini  

 

 

“Delay Gratification” dan Literasi Keuangan Usia Dini  

Oleh Dr. Ratna Candra Sari

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta, Pendiri Generasi Cerdas Keuangan

Kasus ditetapkannya Ketua DPD R

I menjadi tersangka perkara dugaan penerimaan gratifikasi adalah satu kasus dari 666 laporan gratifikasi yang ditangani KPK pada tahun 2016 ini. Gratifikasi merupakan pemberian dalam arti luas, meliputi pemberian uang, barang, komisi, pinjaman tanpa bunga, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya.

Mengapa Gratifikasi Terjadi?

Gratifikasi terjadi antara lain karena rendahnya self control, ketidakmampuan untuk fokus dan berpegang teguh pada tujuan jangka panjang, dan ketidakmampuan seseorang untuk menghadapi godaan.

 

Salah satu tujuan pendidikan literasi keuangan adalah untuk mengaktifkan kemampuan untuk delay gratification. Delay gratification adalah kemampuan untuk menunda kesenangan sesaat dan fokus dalam mencapai tujuan jangka panjang. Pendidikan literasi Keuangan merupakan pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola sumberdaya keuangan secara efektif untuk mewujudkan kesejahteraan individu dan masyarakat. Aplikasi delay gratification dalam konteks keuangan misalnya melatih anak-anak untuk tidak tergoda membeli es krim dan keinginan-keinginan saat ini agar uangnya dapat ditabung untuk membeli barang yang dibutuhkan misalnya tas sekolah, sepatu, alat musik dan sebagainya. Aplikasi kemampuan delay gratification ketika dewasa misalnya kemampuan untuk menunda konsumsi saat ini untuk mencapai tujuan jangka panjang misalnya membeli rumah, menunaikan ibadah haji, dan sebagainya. Dalam konteks keagamaan misalnya menunda kesenangan duniawi untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki.

Kemampuan utuk delay gratification dilakukan dengan cara mengaktifkan executive function. Executive function merupakan kemampuan kognitif untuk fokus pada tujuan jangka panjang misalnya untuk menunda kesenangan sesaat (delay gratification) dan berlatih pada karakter terpuji seperti ketekunan, keteguhan atau kegigihan dalam kehidupan. Executive function mempunyai tiga komponen yaitu inhibition, working memory dan cognitive flexibility. Inhibition merupakan kemampuan untuk fokus pada tujuan jangka panjang dan kemampuan untuk melawan godaan. Melatih kemampuan inhibition pada anak misalnya dengan membuat daftar kebutuhan ketika berbelanja dan melatih untuk tidak tergoda membeli barang-barang di luar yang dibutuhkan. Cognitive flexibility adalah kemampuan untuk memecahkan masalah dengan berbagai alternatif. Working memory adalah kemampuan untuk memproses beberapa informasi sekaligus. Ketiga komponen executive function bersinergi membentuk karakter self control yang baik pada anak, teguh pada pendirian, tahan terhadap godaan/ kesenangan sesaat, fokus pada tujuan jangka panjang, dan kreatif.

 

 Aktivasi Executive Function

 

Executive function berkembang pesat pada anak usia 3-5 tahun. Anak- anak sudah bisa dilatih untuk mengaktifkan executive function  dengan mengajarkan mereka strategi untuk fokus pada tujuan jangka panjang. Misalnya Ketika mereka menghadapi godaan-godaan sesaat, ajak anak untuk memvisualisasikan sepeda yang ingin mereka beli dari tabungannya saat mereka tergoda untuk membeli permen, es krim yang memberi kesenagan sesaat. Dalam konteks agama, misalnya visualisasikan gambaran surga sebagai tujuan yang ingin dicapai agar anak mampu menghindari perbuatan tidak terpuji.

Executive function terbentuk karena faktor genetik dan intervensi. Intervensi orang tua, guru, dan keluarga dalam perkembangan executive function pada anak disertai dengan pengetahuan keuangan, pengetahuan agama merupakan pendekatan yang optimal untuk fonda

 

si membagun karakter anti korupsi termasuk godaan untuk menerima gratifikasi.

Berdasarkan hasil penelitian Moffitt (2011) anak yang dilatih untuk mempunyai executive function yang kuat, ketika dewasa akan mempunyai tingkat kesuksesan tinggi, mempunyai prestasi akademik yang baik, mandiri dan tidak melakukan kejahatan kriminalitas termasuk korupsi. Dengan melatih untuk tidak tergoda pada kesenangan sesaat, anak akan mempunyai kegigihan untuk mencapai tujuan hidup yang lebih berharga, untuk fokus mencapai kebahagiaan yang hakiki dan tidak tergoda untuk melakukan tindakan-tindakan tercela.

Pendidikan Literasi Keuangan Remaja? Terlalu Terlambat

    pembelajaran literasi keuangan di be smart

Terdapat anggapan bahwa literasi keuangan sebaiknya diberikan ketika remaja dengan argumen anak-anak terlalu kecil untuk memahami keuangan. Maka anggapan tersebut tidaklah tepat karena saat yang paling baik untuk melatih executive function adalah usia 3-5 tahun karena pada usia ini fungsi executive function berkembang pesat.

Beberapa ahli keuangan merekomendasikan bahwa pendidikan keuangan harus diberikan sejak dini karena akan terakumulasi sampai dewasa.  Di Austalia misalnya pendidikan literasi keuangan sudah dimulai sejak usia sekolah dasar, dan diintegrasikan dalam kurikulum sekolah. Negara-negara dengan ranking literasi keuangan tertinggi seperti Australia, Canada, Denmark, Finland, Germany mempunyai tingkat korupsi yang rendah. Karena selain untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola sumberdaya keuangan secara efektif, pendidikan literasi keuangan juga bertujuan untuk mencegah masyarakat melakukan kecurangan seperti korupsi, gratifikasi dan sebagainya.

Di Indonesia, pendidikan literasi keuangan belum terintegrasi dengan kurikulum sekolah. Pendidikan literasi keuangan dilakukan secara voluntary terutama oleh pelaku jasa keuangan sesuai Surat Edaran OJK no 7 tahun 2014. Namun sayangnya, implementasinya belum mampu mencakup seluruh anak-anak di Indonesia karena dilaksanakan secara parsial dan tidak terintegrasi.

Sebenarnya sekolah adalah tempat yang paling ideal untuk memulai mengajarkan literasi keuangan karena sekolah dapat menjangkau semua anak-anak pada semua lapisan ekonomi dan terdapat guru untuk mengajarkan literasi keuangan. Selain itu, pendidikan literasi keuangan dapat diintegrasikan kedalam tema-tema pembelajaran yang ada di sekolah. Untuk memulai investasi pendidikan literasi keuangan ini, diperlukan dukungan dari pemerintah dalam bentuk buku pembelajaran, dukungan kepada guru, dan sekolah. Memang bukan investasi yang mudah dan murah, tetapi harus dimulai karena warga negara yang memiliki kompetensi keuangan berperan penting dalam stabilitas ekonomi bangsa dan menurunkan tingkat kecurangan.***

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *