LITERASI KEUANGAN BAGI SISWA DAN REMAJA

Kegiatan literasi keuangan untuk siswa siswi Sekolah Menengah Kejuruan di Yogyakarta

Penggunaan kartu kredit, kartu debit, e-money sudah tidak asing dikalangan remaja bahkan anak. Produk keuangan yang beragam dan kemudahan bertransaksi  secara online membuat remaja  dan anak seringkali kesulitan untuk membuat keputusan keuangan yang efektif. Mereka tidak lagi bisa membedakan kebutuhan dan keinginan. Kemudahan bertransaksi,  pengaruh iklan dan gaya hidup telah mengubah keinginan menjadi kebutuhan. Remaja rentan terhadap perilaku premature affluence yaitu perilaku boros jika terdapat dukungan sumber daya keuangan. Remaja menganggap bahwa uang saku yang didapat dari orang tua sebagai pendapatan yang bisa digunakan seluruhnya untuk konsumsi seperti membeli jajan, pulsa, produk dan jasa perawatan diri, video game, pakaian yang sedang tren dan pemenuhan keinginan lainnya. Ironisnya, terkadang pengeluaran untuk buku justru lebih kecil dari pengeluaran untuk pulsa, perawatan diri atau nonton di bioskop. Premature affluence pada remaja disebabkan beberapa hal diantaranya adalah  rendahnya literasi keuangan pada remaja. Rendahnya tingkat literasi keuangan menyebabkan remaja kurang memikirkan rencana jangka panjang dan risiko keuangan yang mungkin dihadapi di masa yang akan datang.

Tingkat literasi keuangan cenderung rendah pada anak-anak dan remaja. Literasi keuangan merupakan kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola sumberdaya keuangan secara efektif untuk mewujudkan kesejahteraan finansial. Literasi mengandung 2 komponen yaitu pemahaman dan aplikasi dari pemahaman. Literasi Keuangan juga mempunyai 2 dimensi yaitu pengetahuan tentang keuangan dan kemampuan untuk menggunakan pengetahuan tersebut. Pengetahuan tentang keuangan adalah bagian penting dari literasi keuangan tetapi literasi keuangan lebih dari sekedar pengetahuan. Literasi keuangan mencakup dimensi aplikasi yang menentukan pengambilan keputusan dan outcome. Kemampuan untuk menggunakan pengetahuan akan mempengaruhi sikap terhadap keuangan. Sikap terhadap keuangan merupakan reaksi individu terhadap kejadian dan informasi keuangan.  Literasi keuangan tidak hanya sekedar memperkenalkan produk perbankan, investasi, asuransi, namun harus mencakup aplikasi bagaimana menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk membuat keputusan keuangan. Misalnya pemahaman mengenai konsep uang, juga harus tercermin dari sikap yang diambil. Pemahaman mengenai keterbatasan sumberdaya, dalam hal ini uang, akan tercermin dari sikap remaja untuk membuat skala prioritas kebutuhan, membedakan kebutuhan dan keinginan, kemampuan untuk membuat anggaran serta menjadi konsumen cerdas.

Tingkat literasi keuangan yang rendah akan berdampak pada individu dan sosial. Berdasarkan hasil penelitian empiris, remaja yang memiliki tingkat literasi keuangan rendah akan  mempunyai perilaku keuangan negatif ketika dewasa misalnya saldo tabungan minus, pembayaran kredit yang terlambat, tidak memiliki asuransi kesehatan dan tidak memiliki dana cadangan keuangan untuk keadaan darurat. Sedangkan, Individu yang mempunyai literasi keuangan tinggi akan lebih tangguh dalam menghadapi guncangan makroekonomi. Ketidakmampuan masyarakat membuat keputusan finansial dapat menimbulkan dampak negatif pada seluruh aspek perekonomian suatu negara. Krisis keuangan dapat dipandang sebagai outcome dari kurangnya kompetensi keuangan dari warga negaranya.

Pendidikan literasi keuangan harus dimulai sejak dini  karena jika anak-anak mendapatkan pendidikan literasi keuangan sejak dini, maka mereka kelak akan memperoleh  pembelajaran kumulatif. Akan tetapi, saat ini informasi dan pendidikan literasi keuangan bagi remaja sangatlah terbatas, bahkan kurikulum pendidikan di Indonesia belum memasukkan pendidikan literasi keuangan. Di beberapa negara, pendidikan literasi keuangan sudah terintegrasi dalam kurikulum pendidikan dasar. Di China dan India, pendidikan literasi keuangan diintegrasikan dalam kurikulum sekolah. Sedangkan di Selandia Baru pendidikan literasi keuangan didesign sebagai mata pelajaran terpisah. Keseriusan pemerintah China, selandia baru dan India dalam hal pendidikan literasi keuangan berbuah manis, terlihat dari masuknya negara tersebut dalam top performers financial literacy versi OECD. Jika dihubungkan dengan pertumbuhan tingkat pertumbuhan ekonomi, negara top performers financial literacy memiliki pertumbuhan ekonomi terbaik pula, misalnya sepanjang kuartal I-2015, pertumbuhan ekonomi China mencapai 7%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi India sepanjang kuartal I-2015 mencapai 7,5%. Hal ini menunjukkan warga yang memiliki pengetahuan keuangan yang baik akan berdampak positif terhadap perekonomian bangsa.

Tingkat literasi keuangan dipengaruhi oleh tingkat  pendapatan dan pendidikan orang tua. Remaja dari keluarga ekonomi lemah mempunyai tingkat literasi keuangan lebih rendah dibanding remaja dari keluarga ekonomi tinggi. Remaja dengan orang tua yang berpendidikan rendah, memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih rendah dibanding mereka dengan orang tua berpendidikan tinggi. Sehingga menyerahkan pendidikan keuangan ke keluarga bukan merupakan solusi, karena tingginya kesenjangan tingkat pendidikan dan tingkat penghasilan di Indonesia.

Perlu adanya upaya untuk mengintegrasikan pendidikan literasi keuangan pada Kurikulum sekolah. Mengapa? Karena  sekolah dapat menjangkau semua anak, termasuk mereka yang memiliki kesempatan kecil untuk mengenal literasi keuangan dari luar sekolah. Selain itu, lingkungan sekolah memungkinkan pendidikan keuangan dapat diintegrasikan ke topik lain, seperti matematika, agama dsb. Penelitian menunjukkan bahwa pendidikan keuangan di tingkat sekolah dasar dan menengah memiliki pengaruh yang positif terhadap peningkatan kompetensi keuangan siswa.

Peran pemerintah  untuk meningkatkan tingkat literasi keuangan sangat diperlukan.  Masyarakat yang mempunyai pengetahuan yang baik tentang keuangan akan menjamin bahwa sektor keuangan membuat kontribusi positif untuk pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan. Peningkatan literasi keuangan sangat penting  bahwa individu  sejak dini  harus memersipakan masa depan dan kemungkinan risiko keuangan yang akan dihadapi dimasa datang. Bayangkan, seseorang yang tidak bisa membaca dan menulis, apakah dapat survive dimasyarakat. Bayangkan jika anak-anak kita yang tidak berbekal literasi keuangan, bagaimana akan menguasai perekonomian dimasa depan?

Dr. Ratna Candra Sari & Prof. Suyanto
Foumder Generasi Cerdas Keuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *