LITERASI KEUANGAN: DONUT dan “Premature Affluence”

Fenomena beli Donut 1 gratis 1 yang ditawarkan Salah satu merk Donut terkemuka beberapa waktu lalu menyadarkan kita betapa brand telah membuat pengelolaan keuangan menjadi irrasional. Bayangkan untuk bisa mendapat bonus 1 donut, harus rela antri berjam-jam, berdesak-desakan, membayar biaya parkir di mall dengan tarif lebih mahal.

Kemudahan dan kenyamanan berbelanja, beragamnya produk keuangan dan media masa turut mendorong anak-anak untuk berkontribusi aktif sebagai konsumen. Anak-anak sudah mulai memahami bermacam-macam brand dan membuat judgment tentang seseorang berdasarkan barang yang mereka gunakan. Misalnya anak-anak akan menilai seseorang terlihat keren jika makan donut merk tertentu, menggunakan baju, tas, jam tangan merk tertentu.

Berdasarkan penelitian Jelks (2005), Anak-anak mempunyai perilaku premature affluence yaitu perilaku boros jika ada dukungan sumber daya keuangan.  Oleh karena itu pendidikan literasi keuangan bagi anak-anak menjadi keniscayaan untuk saat ini.  Literasi keuangan sebagai pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola sumberdaya keuangan secara efektif untuk mewujudkan kesejahteraan finansial perlu dimiliki oleh ana-anak sejak dini. Kenapa begitu? Jawabnya sederhana, namun penting bagi kerhidupan anak-anak, yaitu untuk membentuk kebiasaan positif dan ketrampilan dalam membuat keputusan keuangan dengan baik, rasional, dan berdaya guna.

Model dan Strategi

Orang tua mempunyai pengaruh signifikan  terhadap perilaku keuangan anak-anak.   Instruksi formal dan kebiasaaan keuangan orang tua sangat penting untuk membentuk, menanamkan, dan membiasakan (habituasi) perilaku positif keuangan anak. Apa pasalnya? Karena pengetahuan dan pengalaman dalam bidang literasi keuangan tidak pernah didapatkan di sekolah formal anak-anak. Meskipun demikian, orang tua sering merasa tidak percaya diri dalam mengelola keuangannya sendiri, sehingga ketika harus mengajarkan pendidikan keuangan kepada anak-anaknya,  mereka serasa tidak berdaya.

Untuk itu, orang tua perlu menyimak strategi pendidikan dan pembiasaan literasi keungan untuk putra-putrinya berikut ini. Strategi pendidikan keuangan perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Pada usia PAUD (3-5 tahun), pembentukan executive function pada anak merupakan hal yang penting. Executive function  merupakan kemampuan kognitif untuk fokus pada tujuan jangka panjang misalnya untuk menunda kesenangan sesaat  (delay gratification)  dan berlatih pada karakter terpuji: ketekunan atau kegigihan dalam kehidupan.  Pada  usia ini, anak sudah bisa dilatih untuk menetapkan tujuan jangka panjang dari menabung, untuk misalnya,  membeli  sepeda, meja belajar, tas sekolah, alat musik dan sebagainya. Dengan mengajari mereka fokus pada tujuan jangka panjang, anak akan terlatih untuk berlatih dan membiasakan menerima delay gratification atau menunda kesenangan sesaat misalnya untuk tidak tergoda membeli jajan, pulsa, permen,  dan memilih untuk menabung agar dapat membeli sepeda atau barang penting lain yang dibutuhkan, bukan yang sekedar diinginkan. Anak-anak yang  mempuyai executive  function, akan mampu menahan diri untuk tidak konsumtif, tidak boros, dan gigih dalam mencapai tujuan jangka panjangnya.

Strategi Pendidikan Literasi Keuangan untuk anak usia sekolah dasar (6-12), orangtua bisa melakukan  financial socialization. Strategi ini menekankan pentingnya interaksi sosial dengan orang tua, guru atau orang dewasa lainnya  dalam membentuk karakter anak yang berupa: nilai, norma, sikap dan kebiasaan keuangan.  Bimbingan, contoh perilaku dan kebiasaan keuangan yang sehat dari orang tua maupun guru merupakan strategi yang tepat pada usia ini. Misalnya, kebiasaan melakukan survey barang melalui katalog  atau internet, membuat anggaran sebelum berbelanja, membedakan antara kebutuhan dan keinginan akan membentuk sikap anak sebagai konsumen yang cerdas.

Akhirnya, Financial skill building merupakan strategi Pendidikan Literasi Keuangan mendasar untuk anak usia remaja (13-21). Melaui strategi ini orangtua dan guru bisa menanamkan ketrampilan dan kebiasaan keuangan yang positif. Pada usia ini pendidikan keuangan yang berbasis pengalaman dan praktik sangat sesuai. Peningkatan kemandirian keuangan remaja, misalnya melatih mereka mendapat part time job pekerjaan paruh waktu atau uang saku per periode, akan memberikan  kesempatan bagi mereka untuk belajar bertanggung jawab dalam pengelolaan keuangan.

Orang tua memegang peran penting dalam membina financial well being untuk anak pada semua usia.  Setiap anak akan memperoleh financial value dengan mengamati perilaku orang tua, guru atau orang dewasa.  Jadi tidak perlu merasa unqualified, karena dengan mengajarkan dan melibatkan anak-anak dalam literasi keuangan, sebenarnya orang tua juga bisa sambil belajar dan mengoreksi pengelolaan keuangannya.

 

Ratna Candra Sari

Prof Suyanto

Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta

Founder of Generasi Cerdas Keuangan

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *