Mahasiswa Harus Bijak Ketika Membeli

Mahasiswa yang merupakan anak perantauan dari berbagai provinsi, dari berbagai latar belakang dan dari berbagai keahlian serta kepribadian pastinya memiliki berbagai macam pemikiran yang berbeda. Termasuk strategi dalam menentukan dan memutuskan pilihan barang-barang keperluannya yang akan dibeli, mengingat mahasiswa yang awalnya tinggal di pedesaan lalu merantau ke perkotaan yang menawarkan banyak keinginan dan gaya hidup.  Pernahkah mahasiswa membeli barang yang tidak dibutuhkannya? Dan pernakah mahasiswa membeli barang yang sudah ia miliki  hanya mereknya saja yang berbeda? . Jawablah dalam hati masing-masing Tanya dan ingat kembali perlakuan seperti apa dalam membeli yang merusak keuanganmu. Membeli barang yang tidak dibutuhkan dan tidak terencana sebelumnya apa motivasinya. Apakah untuk memuaskan diri sendiri? Atau untuk melepas emosi dari rasa ingin memiliki barang-barang tersebut?

Penelitian yang dilakukan oleh Premananto dalam Puspitarini (2012) mengungkapkan bahwa impulsive buying yang dilakukan oleh konsumen saat ini cenderung tinggi yaitu sebesar 15,5% dari seluruh total belanja pembelian di dalam supermarket, hipermarket, department store dan online shop serta menghabiskan kurang lebih sekitar 16,5% dari seluruh uang yang dibelanjakan. Ditinjau dari sudut pandang konsumerisme, pembelian berlebihan atau pembelian yang menonjolkan pada gaya hidup yang tidak hemat ini tengah menjadi sorotan. Hal tersebut menunjukkan bahwa konsumen sering melakukan pembelian yang tidak terencana. ketersediaan barang yang beragam akan membuat pembelian yang tidak direncanakan menjadi perilaku umum bagi para konsumen.

Pembelian tidak terencana tersebut juga dapat disebut dengan impulse buying. Impulse buying adalah pembelian yang dilakukan tanpa direncanakan sebelumnya, dimana para konsumen tidak menentukan merek maupun kategori produk yang dibelinya, padahal sebelumnya konsumen  tidak berniat untuk melakukan pembelian suatu kategori produk dengan merek tertentu, namun dengan adanya stimulus di dalam iklan di layanan e-commerse misalnya dengan adanya diskon, cash back,  dan pengaruh biaya gratis ongkir pada pembelian online, maka hal tersebut akan menimbulkan perasaan menginginkan produk tersebut dan pada akhirnya konsumen akan membelinya.

Berikut tips bagi konsumen untuk menghindari perilaku impulsive buying :

  1. Kembali mengingat perbedaan kebutuhan dan keinginan

Ini adalah hal yang sederhana, namun jika mampu membedakan kebutuhan dan keinginan maka keputusan yang bijak dalam membeli akan tercapai.

  1. Harus bisa mengontrol emosi

Emosi yang sifatnya mengarah kepada negative dan tidak memiliki manfaat maka sebaiknya tinggalkan dan lawan. Cobalah untuk menjalani emosi dalam aktifitas yang positif, seperti : membaca, berdiskusi, atau mencari pekerjaan yang menghasilkan uang dan tidak terlalu banyak menyita waktu.

  1. Ingat masa depan yang harus di perjuangkan

Pasti donk, hidup ini harus punya masa depan. Masa depan tersebut yang menjadi harapan dan membuat kita tetap bertahan hidup dan semangat menjalaninya. Jika para konsumen memiliki banyak uang, maka sebaiknya tetap kurangi pembelian dan tingkatkan menabung serta investasi. Hal ini mendukung kita untuk memperjuangkan masa depan dan membuat kita berpikir kedepan.

  1. Selalu berlatih sikap disiplin dalam membeli barang

Kita memperlakuan diri sendiri dengan sikap disiplin. Jika diri kita mulai tidak disiplin kita harus menghukum diri sendiri. Sebelum membeli barang pastikan apakah barang tersebut merupakan barang yang memang kita butuhkan atau barang yang memang sudah terencana dari jauh-jauh hari untuk dibeli.

Penulis: Ani Rohmah Yanti dan Wulan Dari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *