Implementasi E-Rupiah di Indonesia

Implementasi E-Rupiah di Indonesia

Oleh : Ibnu Affan & Fazry Alhadi Kamal

 

Apa itu E-Rupiah ?

E-“ merupakan singkatan dari Electronic yang merujuk pada segala hal atau benda yang dibentuk atau berkerja atas dasar elektronika. Dalam hal ini, secara sederhana dapat diartikan dengan digital. Sedangkan Rupiah, seperti yang kita ketahui merupakan satuan mata uang Republik Indonesia. Jadi, secara garis besar kita dapat menyimpulkan bahwa E-Rupiah merupakan salah satu jenis mata uang digital yang berlaku pada suatu negara dan diakui secara sah untuk digunakan sebagai alat tukar oleh para pelaku ekonomi. Selama ini mata uang yang berlaku dan digunakan di wilayah Indonesia adalah Rupiah. Rupiah saat ini sudah menjadi semi mata uang digital karena digunakan sebagai mata uang dalam berbagai transaksi e-commerce.  Sistem dan mekanisme pembayaran secara online yang menggunakan Gopay ataupun OVO payment secara tidak langsung memposisikan Rupiah sebagai mata uang digital namun tidak secara penuh. E-Rupiah lebih kepada dasar mata uang yang akan dijadikan acuan dalam pengenaan harga suatu barang atau jasa dan berlaku untuk transaksi perdagangan secara online atau elektronik. Untuk itu, sistem dan mekanisme mata uang digital dalam bentuk konsep ini masih sedang digodok otoritas moneter dalam hal ini BI dan OJK bersama para stakeholders.

Syarat Penerbitan E-Rupiah

Beberapa persyaratan tersebut menurut Bank for International Settlement (BIS) antara lain nilai mata uang yang stabil, memiliki mitra negara lain yang juga menggunakan jenis mata uang digital, ruang lingkup penggunaan hanya dalam ranah transaksi online, mudah dalam penggunaan, memiliki akses universal, aman dari tindak pidana pencurian dan tidak bertentangan dengan regulasi yang berlaku di negara lain.

Kelebihan E-Rupiah

  • Penyebaran uang secara nasional atau internasional.
  • Mempermudah dalam pengwasaan dan menjaga stabilitas mata uang itu sendiri.
  • Menjadikan mata uang digital sebagai mata uang kedua yang dimiliki indonesia untuk membangun perekonomian dengan menggunakan transaski digital.
  • Menambah efisiensi para pelaku sistem pembayaran, seperti meringankan biaya transaksi nasabah, mempercepat distribusi uang, menurunkan ongkos pencetakan uang, hingga mengurangi potensi korupsi.
  • Dapat digunakan untuk transaksi massal yang nilainya kecil namun frekuensinya tinggi, seperti transportasi, parkir, tol, fast food, dll.

 

Kekurangan E-Rupiah

  • Uang digital terbatas dalam jumlah transaksi per harinya. Mengenai jumlah maksimum di rekening dan juga jumlah output di setiap harinya.
  • Jika sistem pengolahan data rusak kemudian diretas maka akan berujung pada penipuan dan pembajakan. Bahkan bisa menjadi situasi buruk ketika mengarah ke kebocoran data pribadi pemiliknya.
  • Akses internet merupakan hal utama yang diperlukan pada uang ini. Jika koneksi internet gagal, anda tidak bisa mempunyai akses akun online ke rekening anda, terlebih pada saat situasi darurat, dan jauh dari atm. Itu bisa menjadi kendala.

 

Negara-negara Penggagas Mata Uang Digital

Saat ini, ada dua bank sentral yang cukup agresif mendorong penerbitan mata uang digital atau Central Bank Digital Currency (CBDC), yaitu bank sentral di Swedia dan China. Bank Sentral Swedia, Riksbank menjadi satu-satunya bank sentral di dunia yang berencana menerapkan mata uang digital E-Krona pada tahun 2019. Bank tersebut telah melakukan sedikitnya lebih dari 12 bulan pengerjaan bukti konsep E-Krona. Sejauh ini mata uang digital bank sentral Swedia tidak akan dikeluarkan secara umum, namun hanya akan ada beberapa pengguna yang ditunjuk sebagai bagian dari simulasi. Nantinya mereka dapat menyimpannya di dompet digital dan dapat menggunakan E-Krona untuk melakukan pembayaran, setoran, hingga penarikan melalui aplikasi seluler.

Sedangkan China menjadi yang terdepan dalam hal ini. Pada April 2020, bank sentral China (PBoC) meluncurkan pilot project mata uang digital China atau yang dikenal dengan Digital Currence/ Electronic Payment (DCEP) atau e-CNY. E-CNY yang diterbitkan tersebut tanpa suku bunga, dan biaya hanya dibebankan pada transaksi dengan nilai yang besar. PBoC mulai membentuk tim untuk melakukan studi pengembangan mata yang digital pada 2014. Kemudian di tahun 2017, anggota dewan memberi izin PBoC untuk mendesain mata uang digital itu melalui kerja sama dengan bank komersial.

Jadi, dalam hal pengembangan mata uang digital ini, perlu dilibatkan berbagai macam pihak baik dari kalangan pemerintah, swasta, akademisi dan juga masyarakat sehingga nantinya tercipta sebuah diskusi dan kajian agar mata uang digital ini dapat terlaksana dengan baik. International Monetary Fund (IMF) sendiri juga mengimbau kepada bank sentral seluruh dunia untuk mempertimbangkan menerapkan mata uang digital sebagai mata uang yang aman, praktis dan efisien. Hal ini bukan tanpa sebab karena kebutuhan akan uang tunai yang semakin berkurang sedangkan kebutuhan terhadap uang digital yang semakin meningkat.

 

 

REFERENSI

https://www.wartaekonomi.co.id/read323889/swedia-uji-dlt-untuk-pembuktian-mata-uang-digitalnya

https://news.tokocrypto.com/2020/02/26/bank-sentral-swedia-uji-coba-mata-uang-digital/

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210422101031-78-633221/imf-ingatkan-dunia-soal-risiko-mata-uang-digital

https://katadata.co.id/agustiyanti/finansial/608104c05e6b7/imf-peringatkan-risiko-mata-uang-digital

https://www.kompasiana.com/didihadi711/603b6a658ede48185d710812/e-rupiah-apakah-akan-seperti-remimbinya-tiongkok-dan-bagaimana-penerapanya

https://www.futuready.com/artikel/all-about-money/uang-elektronik/

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *