Etika Hutang Piutang Menggunakan Fintech Peer-to-Peer Lending Menurut Pandangan Islam agar Tidak Terjerumus Lingkaran Setan dalam Hutang

By: Rizki Saputra and Yoga Kurniawan

Community activities during the pandemic, tend to be often related to technology. Starting activities in the morning, after worship, we often take the time to open our gadgets, to update the latest information or just reply to messages from friends/family. Cashless behavior, which is becoming increasingly popular during this pandemic, also makes humans more familiar with technology. Paying something by using mobile banking/internet banking , to get into debt is now also accessible in the palm of your hand. 

Online loans or better known as Pinjol , are now also getting more popularspread among the people. The current pandemic condition makes the space for people’s movement increasingly limited. Restrictions on Community Activities implemented by the government to reduce the spread of the Covid-19 Virus, will also have an impact on the economic condition of the community. This will affect the level of community income which is also decreasing. This reduction in people’s income will form a new pattern of behavior. For example, before the pandemic a student spent an internet quota of IDR 50,000 per month, but during the pandemic, the student had to increase the cost of his monthly internet quota due to increased internet usage which was used to support online lectures. Not only that, there are many other examples of companies that ultimately have to reduce the number of employees, to reduce the pace of costs during the pandemic, due to reduced demand, of course, will have an impact on employees who are laid off. The employee will be unemployed, no longer have the income as before, and must find other income to ensure the life of his family. Changes in behavior patterns above will also trigger people to find ways to meet their needs. One way to find a source of income is to get into debt.

Hutang adalah istilah bagi penerima pinjaman yang merujuk pada sebagian harta yang diperoleh dengan cara meminjam dari pihak lain dan wajib untuk dikembalikan. Sedangkan dari sisi pemberi pinjaman dapat menyebutnya dengan istilah piutang yaitu sebagian harta yang sengaja dipinjamkan ke pihak lain dengan ketentuan pengembalian setelah berakhir masa pinjaman. Menurut islam, pengertian mendalam terkait pinjaman diistilahkan dengan qardh dalam bahasan fiqh. Qardh artinya uang yang dipinjamkan orang yang memberi pinjaman kepada orang yang meminjam untuk dikembalikan dengan jumlah yang sama setelah ia memiliki kemampuan (Al-Faifi, 2014). Akad Qardh ini tentunya perlu dibedakan dengan akad mu’amalah yang bersifat bisnis atau pembiayaan. Prinsip yang berlaku dalam akad pembiayaan adalah bagi hasil yaitu keuntungan ataupun kerugian dibagi sebesar nisbah yang disepakati oleh pihak yang menyepakati akad tersebut.

Landasan hukum pinjaman atau hutang piutang merupakan bagian dari ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah karena di dalamnya terdapat kasih sayang memudahkan urusan dan menghilangkan duka mereka (Al-Faifi, 2014). Kegiatan memberi pinjaman hutang merupakan bentuk kasih sayang dan sebagian ulama terkadang menilai memberikan pinjaman hutang lebih bernilai dibandingkan sedekah biasa karena pinjaman merupakan bentuk bantuan yang sedang benar-benar dibutuhkan oleh orang tersebut. Sedangkan sedekah atau hibah terkadang belum menjadi kebutuhan yang mendesak bagi orang tersebut.

Terdapat beberapa etika yang harus dimiliki seorang muslim ketika memberikan pinjaman harta kepada orang lain. Diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Niat Baik melalui Menolong
  2. Mencatat dengan Baik
  3. Memberi Tangguh Atau Mengikhlaskan Sebagian/Total

Etika penerima hutang dalam Islam dijabarkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah lebih banyak dibandingkan etika pemberi hutang. Ini menunjukkan bahwa penerima hutang wajib berusaha sebaik mungkin untuk bisa melunasi hutangnya. Etika orang yang sedang memiliki hutang antara lain sebagai berikut :

  1. Niat Baik Melunasi Hutang
  2. Menyegerakan untuk Melunasi Hutang
  3. Tidak Menyepelekan Hutang
  4. Mencatat dengan Baik
  5. Tidak Berhutang Kecuali Terpaksa
  6. Berdoa Kepada Allah untuk Dihindarkan dari Jeratan Hutang

Kini fasilitas untuk berhutang sudah sangat mudah untuk diakses. Hanya dalam satu genggaman saja, kini kita sudah bisa mendapatkan uang melalui mekanisme Fintech Peer-to-Peer Lending. Menurut OJK, Fintech Lending atau  disebut  juga  Fintech Peer-to-Peer Lending atau Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (LPMUBTI) adalah salah satu inovasi pada bidang keuangan  dengan pemanfaatan teknologi yang memungkinkan pemberi pinjaman dan penerima pinjaman melakukan transaksi pinjam meminjam tanpa harus bertemu langsung. Mekanisme transaksi pinjam meminjam dilakukan melalui sistem yang telah disediakan oleh Penyelenggara Fintech Lending, baik melalui aplikasi maupun laman website. Kemudahan yang diberikan kadang membuat masyarakat lalai dan lupa memperhatikan dengan siapa ia berhutang, bahkan hingga tidak memastikan kembali laman/platform penyelenggara pendaan itu legal atau ilegal. Perilaku lalai ini yang seharusnya dihindari. Dalam agama islam sudah jelas diajarkan tentang etika dalam hutang piutang diantaranya ada menyebutkan ‘tidak menyepelekan hutang’. Sebagai penerima hutang, haruslah cermat dan memastikan lagi dengan siapa ia berhutang, dan mampukah ia melunasi hutang tersebut.

Berdasarkan etika dalam hutang piutang menurut islam di atas, masyarakat juga harus jeli dalam memilih Fintech Peer-to-Peer Lending yang akan digunakan. Kejelian ini termasuk dalam etika penerima hutang pada poin tidak menyepelekan hutang’. Apabila akan berhutang maka diniatkan pula untuk dapat melunasi, niat ini juga akan meningkatkan kesungguhan penerima hutang, sehingga tidak akan menyepelekan hutang. Terkadang penerima hutang menjadi lalai hingga menyepelekan hutang karena beberapa faktor, pertama karena tidak adanya uang untuk melunasi. Kedua, tidak memahami kesepakatan awal dengan baik, sehingga akan ada informasi yang terlewat. Ketiga, karena faktor mendesak, segera membutuhkan uang/pendanaan, penerima hutang terlanjur terbujuk rayu dengan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan tanpa melihat legal atau tidak platform yang digunakan. Hal ini jika diremehkan, maka akan menjerumuskan penerima hutang dalam penipuan bahkan lingkaran setan hutang.

Illegal Fintech Lending VS Licensed/Registered Fintech Lending Fintech Lending
Fintech Lending Ilegal V.S Fintech Lending Berizin/Terdaftar

Adapun hal-hal yang dapat dilakukan agar dapat mendeteksi Fintech Peer-to-Peer Lending Ilegal adalah pastikan Fintech Peer-to-Peer Lending terdaftar dalam pengawasan OJK. OJK telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI) dan Satgas Waspada Investasi (SWI). Sejak awal 2018 hingga September 2019 sudah terdapat 1350 entitas Fintech illegal yang telah diblokir oleh SWI.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah apakah Penyelenggara Fintech Lending tersebut telah terdaftar/berizin di OJK, ajukan pinjaman hanya pada penyelenggara yang telah terdaftar/berizin di OJK. Penerima  pinjaman  juga  harus  memperhatikan  syarat  dan  ketentuan  serta  pasal-pasal dari perjanjian pinjaman. Pengguna harus memahami besaran biaya pinjaman (bunga) yang akan ditanggung, serta mekanisme transaksi dari awal hingga pembayaran kembali (repayment), dan ketentuan lainnya. Bijaklah dalam berhutang, dengan jeli mendeteksi pinjaman online ilegal, sehingga tidak akan terjerumus dalam praktik penipuan dan lingkaran setan hutang.

Sumber Rujukan 

  • Aziz, A. (2016) ‘Esensi Utang Dalam Konsep Ekonomi Islam’, BISNIS,
  • Cahyadi, A. (2014) ‘Managing Debt in an Islamic Perspective’, Essence of Journal of Business and Management, 4(1), pp. 67–78.
  • Fatmawati, Endang (2015), Technology Acceptance Model (TAM) for Analyzing Acceptance of Library Information Systems, Iqra’ Journal, Vol. 9, No. 1, p. 1-13.
  • Lai, PC (2017), The Literature Review of Technology Adoption Models and Theories for the Novelty Technology, JISTEM – Journal of Information System and Technology Management, Vol. 14, No. 1, p. 21-38.
  • https://www.ojk.go.id/id/kanal/iknb/data-dan-statistik/direktori/ Fintech /Documents/FAQ%20 Fintech %20Lending.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *