QRIS, Pandemi Covid 19 Semakin Membuat Masyarakat Melek dengan Digitalisasi Pembayaran

Oleh Tengku Muhamad Hasan As’ari dan Muhamad Nur Arifin

Dalam kurun waktu dua tahun setelah diluncurkan pada 17 Agustus 2019, QRIS terus berkembang secara masif. Masyarakat pun diuntungkan karena dengan QRIS bisa melakukan transaksi finansial di mana saja dan kapan saja tanpa perlu membawa uang tunai. Sistem pembayaran nontunai dan nirsentuh (cashless and contactless) dengan tujuan mempermudah masyarakat dalam pembayaran. Belum lagi Pandemi Covid-19 sejak tahun 2020 di Indonesia menjadikan QRIS semakin menjadi pilihan untuk transaksi pembayaran.

Quick Response Code Indonesian Standard, atau dikenal dengan QRIS dirancang oleh pemerintah, dalam hal ini Bank Indonesia (BI) bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) serta didukung oleh working group dari beberapa PJSP, sebagai ‘pemersatu’ untuk semua aplikasi pembayaran yang menggunakan QR. Seperti yang kita kenal sekarang GoPay, OVO, DANA, LinkAja dan lainnya. QRIS saat ini juga salah satu yang gencar dikampanyekan oleh pemerintah dan para Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP). Dengan adanya QRIS ini memberikan dampak yang sangat positif yaitu telah mengubah transaksi pembayaran menjadi lebih efisien, mempercepat inklusi keuangan sejalan dengan semakin populer penggunaannya dan canggihnya teknologi.

Selain itu dengan menggunakan QRIS juga mendukung Program Pemerintah Indonesia untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Pembeli maupun penjual tidak harus saling bersentuhan dalam transaksi pembayaran karena cukup dengan melakukan scan dalam setiap transaksi melalui ponsel. Adanya Pandemi Covid-19 juga membuat masyarakat melek terhadap pembayaran digital karena masyarakat dipaksa dalam keadaan sekarang untuk melakukan physical distancing. Tentu pembatasan-pembatasan seperti ini juga menjadi momentum untuk mengakselerasi QRIS kepada masyarakat luas. Kemudahan pembayaran ini juga berbanding lurus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, karena semakin mudah masyrakat melakukan aktivitas jual beli dengan QRIS, maka diharapkan daya beli masyarakat juga meningkat ditengah pandemi sekarang ini.

Ada empat strategi yang bisa diterapkan agar bank berhasil mendorong pertumbuhan transaksi digital berbasis QRIS.

Pertama, memilih segmentasi yang sesuai. Perbankan dapat memperluas pasar dengan menambahkan fitur QRIS pada segmen merchant yang telah menjadi mitra. Selain itu, perbankan juga perlu masuk ke market yang lebih luas melalui akuisisi merchant baru dalam skala mikro maupun para pedagang kecil.

Kedua, menyasar merchant individu dan komunitas dalam melakukan akuisisi. Dengan masuk ke komunitas, bank dapat menjaring mitra-mitra baru sekaligus membukukan transaksi yang lebih besar.

Ketiga, mengembangkan model bisnis baru. Selama ini, pengembangan QRIS hanya fokus pada Business to Customer (B2C). Kini, PJSP juga bisa mengembangkan model bisnis baru yaitu Business to Business (B2B). Ambil contoh, memfasilitasi perusahaan untuk supply chain dalam melakukan pembayaran atau penagihan dari agen di bawahnya.

Keempat, melakukan edukasi dan sosialisasi berkelanjutan kepada masyarakat dan merchant, baik secara langsung maupun melalui platform media massa, media sosial, serta email. PJSP juga telah dan akan terus melakukan kerja sama dengan merchant sekaligus edukasi dalam rangka Pekan QRIS Nasional yang diselenggarakan BI di berbagai kota di Indonesia. Penerapan strategi tersebut tentunya perlu dibarengi sinergi yang kuat dengan pemerintah, serta pengembangan infrastruktur dari masing-masing PJSP.

QRIS memberi beragam manfaat dan keuntungan bagi masyarakat. 

Pertama, transaksi menjadi lebih sehat dan aman. Dengan QRIS, masyarakat tidak perlu lagi memberikan Kartu Kredit atau Kartu ATM ke kasir, tidak perlu memasukkan PIN ke Electronic Data Capture (EDC), apalagi harus mengeluarkan dan menerima uang tunai. Semuanya bisa dilakukan melalui ponsel masing-masing tanpa perlu bersentuhan dengan benda lain.

Kedua, transaksi menjadi lebih simple, efisien dan fleksibel. Pengguna QRIS tidak dipusingkan lagi harus punya dompet digital yang berbeda-beda, karena QRIS bisa menerima pembayaran dari semua dompet digital di Indonesia.

Nyatanya, benefit QRIS juga turut dirasakan oleh merchant-merchant untuk menunjang kemajuan bisnis, di antaranya terhindar dari proses pembayaran secara tunai dan biaya pengelolaan uang tunai. Merchant juga semakin mudah dan efisien dalam melakukan proses administrasi karena setiap transaksi tercatat secara otomatis. Selanjutnya, risiko yang rendah terhadap pencurian uang ataupun penerimaan uang palsu. QRIS juga dinilai dapat meningkatkan penjualan karena sesuai dengan gaya hidup masyarakat saat ini yang serba digital, atau bahasa kerennya ‘kekinian’. Dari aspek ekonomi, implementasi QRIS juga diharapkan dapat berkontribusi menyumbang devisa bagi negara, terutama dari segi pariwisata. Sistem pembayaran ini memudahkan wisatawan mancanegara bertransaksi di berbagai merchant yang menerima QRIS. Dengan semakin tersebarnya merchant yang menyediakan QRIS, termasuk di daerah wisata seperti Bali, Nusa Tenggara, Manado, DKI Jakarta, dan sejumlah bandara internasional, para turis dari dalam dan luar negeri dapat merasakan kemudahan dan kenyamanan saat bertransaksi untuk memenuhi berbagai kebutuhan selama berada di daerah wisata tersebut.

QRIS dapat dipakai di semua lini, seperti hotel, restoran, tempat rekreasi, pusat oleh-oleh, hingga ke pedagang di pasar tradisional. Sudah barang tentu, terobosan ini dapat mendukung pengembangan industri pariwisata di Indonesia. Kita semua berharap, QRIS bisa diterima masyarakat luas di Tanah Air, dan dapat mempercepat terwujudnya aspirasi dari pemerintah ke arah ‘cashless society’. Untuk itu, PJSP layak senantiasa mendukung upaya pemerintah dalam mendorong penggunaan QRIS melalui edukasi serta sosialisasi berkelanjutan, dan terus menambah merchant baru. Saya meyakini, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat atas pentingnya digitalisasi metode pembayaran yang memberikan keuntungan lebih dibandingkan transaksi konvensional, QRIS dapat diterima secara cepat dan memberikan manfaat maksimal.

Sumber : Lani Darmawan, Investor.id, “Momentum Pengembangan QRIS di Tengah Pandemi”, http://brt.st/6Mxo, diakses pada 29 Juni 2021 jam 20:45.

3 thoughts on “QRIS, Pandemi Covid 19 Semakin Membuat Masyarakat Melek dengan Digitalisasi Pembayaran

  • October 14, 2021 at 2:00 pm
    Permalink

    This design is incredible! You obviously know how to keep a reader amused. Between your wit and your videos, I was almost moved to start my own blog (well, almost…HaHa!) Great job. I really enjoyed what you had to say, and more than that, how you presented it. Too cool!

    Reply
  • October 15, 2021 at 12:48 pm
    Permalink

    Definitely, what a splendid blog and revealing posts, I will bookmark your blog.All the Best!

    Reply
  • October 15, 2021 at 2:18 pm
    Permalink

    Hey there this is somewhat of off topic but I was wanting to know if blogs use WYSIWYG editors or if you have to manually code with HTML. I’m starting a blog soon but have no coding know-how so I wanted to get advice from someone with experience. Any help would be greatly appreciated!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *