Say “No” to Impulsive Buying with Mindfulness

Say “No” to Impulsive Buying with Mindfulness
Oleh: Ni Putu Rita Sintadevi dan Farah Samrotul Fuadah

 

Kemajuan teknologi memiliki dampak pada banyak hal, salah satunya adalah belanja. Ada banyak platform berbelanja online yang tentunya dapat memudahkan pembeli untuk membeli barang yang dibutuhkan. Penjual tidak segan memberi diskon untuk menarik pembeli, seperti 10.10, gratis ongkos kirim, hingga buy one get one. Melihat fenomena tersebut, pernahkah anda merasa tertarik membeli barang tanpa pikir panjang namun setelah barang terbeli, anda bingung mengapa membeli barang tersebut? Bahkan barang tersebut tidak juga digunakan setelah pembelian hingga berbulan-bulan. Mungkin anda juga pernah merasa jika barang di gudang rumah anda sangat banyak dan penuh dengan benda-benda yang bagi anda tidak terlalu berguna? Jika iya, bisa jadi anda sudah mengalami impulsive buying.

Impulsive buying menurut Herabadi, dkk (2009) sebagai berikut

Impulse buying has been described as an unplanned purchase behaviour characterized by the sudden, powerful and often persistent, urge to purchase that is initiated spontaneously upon confrontation with a particular item, and accompanied by feelings of pleasure and excitement.

 

Impulsive buying merupakan kebiasaan membeli barang tanpa rencana. Terdapat dorongan pembelian tiba-tiba yang kuat yang sering kali terus menerus dan hanya memuaskan kesenangan semata. Hal ini tentunya tidak sehat untuk finansial anda. Menurut Aragoncillo dan Orús (2018), dampak negatif dari perilaku impulsive buying yakni menimbulkan masalah keuangan, perasaan menyesal atau kecewa dengan barang yang didapat, serta menyadari bahwa ada ketidaksesuaian antara apa yang dikeluarkan dengan apa yang dibayangkan.

 

Salah satu cara yang dapat anda lakukan untuk mengurangi impulsive buying adalah dengan berbelanja secara “Mindfulness”. Sebelum lebih lanjut membahas mengenai “Berbelanja secara Mindfulness”, mari kita telusuri arti kata “Mindfulness” terlebih dahulu. Kata “Mindfulness” cukup sering dijumpai belakangan ini. Menurut Archie Wirija founder QuranID Project, Mindfulness adalah kondisi dimana sadar penuh dan hadir utuh akan apa yang sedang dipikirkan serta dikerjakan. Dengan kata lain, mindfulness merupakan self-awareness atau mengenal diri lebih mendalam. Mengetahui apa yang sebenarnya diyakini, diinginkan, rasakan, serta dibutuhkan.  

 

Berikut beberapa cara yang dapat anda lakukan untuk mencegah impulsive buying melalui mindfulness. 

Pertama, bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dalam kondisi mendesak, kebutuhan dan keinginan terkadang sulit dibedakan. Untuk memudahkan dalam membedakannya, anda dapat membuat catatan kecil kebutuhan anda sebelum berbelanja. 

Kedua, jika anda merasa ragu mengenai barang yang akan anda beli termasuk ke dalam kategori kebutuhan atau keinginan, anda dapat  melakukan pengamatan terlebih dahulu  selama 30 hari untuk memastikan bahwa barang tersebut perlu dibeli atau tidak. 

Ketiga, batasi penggunaan e-commerce. Penggunaan e-commerce memang sangat mudah, anda dapat berbelanja tanpa perlu keluar rumah. Kemudahan dalam pembayaran melalui M-Banking dan PayLater pun mendukung Impulsive Buying. Maka untuk anda yang masih sering berbelanja secara impulsif di e-commerce, ada baiknya untuk membatasi penggunaannya. 

Terakhir, hindari membuat keputusan belanja ketika sedang stres. Berbalanja dengan kondisi emosi yang tidak stabil cenderung akan membuat kesadaran anda tidak maksimal, hal ini dapat berujung pada pengambilan keputusan spontan untuk anda membeli barang tanpa memikirkan dampak kedepannya. 

Berbelanja secara “mindfulness” tentunya dapat membuat anda berpikir dua kali bahkan lebih untuk memutuskan apakah barang tersebut sungguh bermanfaat, atau hanya lapar mata saja. Dengan demikian, anda tidak akan sembarangan membeli barang sebelum mengetahui kebermanfaatan jangka panjangnya. Selain itu kesehatan finansial anda-pun dapat lebih terjaga.

 

Referensi:

https://greatmind.id/article/sepercik-air-mindfulness-dalam-islam 

Herabadi, Astrid & Verplanken, Bas & Knippenberg, Ad. (2009). Consumption experience of impulse buying in Indonesia: Emotional arousal and hedonistic considerations. Asian Journal of Social Psychology. 12. hlm. 20-31 10.1111/j.1467-839X.2008.01266.x

Aragoncillo, L., & Orús, C. (2018). Impulse Buying Behaviour: An Online-Offline Comparative And The Impact Of Social Media. Spanish Journal of Marketing – ESIC, 22(1), 42–62. https://doi.org/10.1108/SJME-03-2018-007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *